Komodo Jatuh Cinta eps 99
Angin sore pelan-pelan menyapu balkon rumah sakit kelas VVIP itu. Kursi rotan empuk, meja kaca kecil, dan pemandangan taman yang penuh burung merpati — semua terlalu mewah buat orang biasa kayak gue. Tapi di sinilah gue duduk, di sebelah papa Nikita.
Gue cuma bisa duduk tegak, tangan di paha, muka sok tenang padahal keringet dingin ngucur kayak keran bocor.
"Rangga, kamu nggak usah ikutin saya dulu. Saya mau ngobrol berdua sama sersan Ade," katanya waktu tadi keluar kamar.
Rangga bengong sambil melirik gue. “Mampus dah si Ade,” gumamnya pelan. Gue pengen banting tatapan, tapi takut dikira kurang ajar.
Begitu kami duduk, papa Nikita buka percakapan dengan nada berat tapi tenang.
“Ade… saya mau bicara sesuatu tentang posisi kamu saat ini. Posisi yang diapit dua wanita.”
Gue langsung freeze.
"Anu pak... ehh anu..."
Dia nyengir dikit, narik napas, lalu menyalakan cerutu. Asapnya naik pelan-pelan, kayak efek slow motion di film mafia.
“Ade... saya sudah bilang, bahwa saya pernah di posisi kamu.”
Dia menatap jauh ke taman, matanya kayak nyari masa lalu di balik pohon beringin.
“Duduk sini. Temani saya sebentar.”
Kami berdua diam beberapa detik. Hanya suara burung dan napas gue yang ngos-ngosan karena tegang.
Dia menghembuskan asap cerutu, lalu mulai bercerita.
“Jadi... tiga puluh tahun yang lalu...”
Asap cerutu melingkar di udara, dan gue bisa ngerasain... cerita ini nggak bakal sederhana.
(Flashback)
"Tiga Puluh Tahun yang Lalu..."
Tiga puluh tahun yang lalu, saya masih muda.
Nama saya Haryadi, tapi orang-orang memanggil saya Adi, cowok kalem tapi karismatik, dengan potongan rambut belah pinggir yang bisa bikin cewek-cewek nyengir nggak jelas.
Di umur dua puluh empat, saya udah jadi pengusaha muda sukses.
Punya showroom motor gede, konveksi kecil, dan nama yang sering muncul di majalah wirausaha lokal. Tapi di balik jas rapi dan senyum sopan, saya punya satu masalah berat...
Saya disukai dua wanita sekaligus.
Dua-duanya cantik.
Dua-duanya tulus.
Tapi dua-duanya juga... berbahaya.
Yang pertama, Asih.
Wanita berhijab, lembut, dan kalem kayak embun pagi. Kalau ngomong, suaranya lirih tapi ngena di hati.
Asih sering datang ke kantor saya cuma buat ngasih makanan, sambil bilang,
“Mas Adi jangan lupa makan ya. Dunia ini cuma titipan.”
Kalimat itu sederhana, tapi tiap kali denger, saya ngerasa kayak disiram air zam-zam.
Yang kedua, Anggun.
Dia kebalikannya total.
Rambutnya dicat cokelat muda, bibir merahnya nyala kayak lampu rem, dan cara jalan pakai high heels-nya tuh tek tek tek kayak alarm dosa.
Anggun nggak pernah kasih nasihat, tapi kasih kejutan.
Kadang bawa parfum luar negeri, kadang tiba-tiba nongol di depan showroom sambil bilang,
“Mas Adi, mobil baru nih. Cocok buat image kamu.”
Kalau Asih ngajak saya ke pengajian, Anggun ngajak saya ke launching klub malam yang sponsornya minuman mahal.
Dua-duanya membuat saya bingung setengah mati.
Asih ngajarin arti kesabaran,
Anggun ngajarin arti kenikmatan.
Sampai suatu malam, saya duduk di balkon rumah.
Di satu tangan, teh manis buatan Asih.
Di tangan lain, cerutu mahal dari Anggun.
Asap dan uap teh bertemu di udara, bikin suasana kayak metafora antara surga dan dunia.
Saya menarik napas pelan.
“Kalau saya pilih Asih, hidup saya tenang tapi sederhana... Kalau saya pilih Anggun, hidup saya mewah tapi berisiko... Tapi kalau saya nggak milih dua-duanya, saya bakal gila sendiri.”
Lalu, nasib mulai bermain.
Suatu malam, Asih datang tanpa kabar. Mukanya pucat, matanya berkaca-kaca.
“Mas Adi...” suaranya pelan. “Mulai sekarang, aku harus ke luar kota. Ada yang ingin aku kejar, bukan dunia, tapi ketenangan.”
Saya diam. Hati saya kayak diremas.
Sebelum sempat jawab, Asih pergi — meninggalkan teh hangat yang perlahan jadi dingin.
Seminggu kemudian, Anggun datang.
Dia bawa koper, senyum, dan tiket pesawat.
“Mas Adi, aku mau buka butik di Jakarta. Aku mau kamu ikut. Aku butuh seseorang yang bisa jagain aku... bukan cuma cintaku, tapi juga bisnisku.”
Dan di situlah saya dihadapkan pada pilihan hidup
mengejar cinta yang menenangkan, atau cinta yang menegangkan.
Papa nikita kembali memandang gue dengan tatapan penuh arti.
Gue diem ga bisa respon apa-apa.
To be continued

Posting Komentar