Komodo jatuh cinta eps 100
Table of Contents
Pilihan Berat.
Setelah mendengar cerita Papa Nikita, gue beneran kebawa suasana.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut beliau terasa kayak tamparan lembut tapi dalam.
Jujur... gue ngerasa cerita itu bukan cuma tentang masa lalu dia, tapi juga tentang gue sekarang.
Bener, gue harus berani memilih satu wanita yang tepat.
Antara Mutiah dan Nikita.
Antara keindahan dan ketulusan.
Antara perjuangan dan diperjuangkan.
Gue sadar, kalau gue terus diem di tengah-tengah, resikonya satu:
gue bakal kehilangan dua-duanya.
Tapi kalau gue milih salah satu, gue juga harus siap sama satu hal: penyesalan.
Karena cinta selalu datang dengan harga yang nggak bisa dikembalikan.
Gue inget semua potongan kenangan...
Mutiah , gue ketemu dia waktu SMP (episode 14).
Cewek yang bikin gue pengen jadi versi terbaik diri gue. Gue berjuang buat dia.
Tapi Nikita...
Cewek absurd yang gue kenal dari SD (episode 1).
Yang dulu gue anggap komodo, padahal diam-diam dia cuma pengen gue lihat dia bukan sebagai predator, tapi sebagai pelindung.
Dia berjuang buat gue... sampai sekarang.
Gue tenggelam dalam lamunan, sampai suara berat itu nyadarin gue.
“Ehem... Ade.” papa nikita negur gue
“I... iya, Pa? Maaf, saya agak ngantuk.”
Papa Nikita cuma senyum tipis, lalu berdiri.
Dia berdiri tegak di depan gue — tatapannya tajam tapi hangat, kayak seseorang yang udah ngerti semua luka sebelum gue sempat cerita.
“Nikita sudah banyak berjuang untukmu,” katanya pelan.
“Mengorbankan nyawa, waktu, bahkan hartanya. Ini bukan karena dia anak saya... tapi kalau saya jadi kamu, saya akan memilih wanita yang mencintai, bukan wanita yang cuma dicintai.”
Gue terdiam.
Kata-kata itu berat... tapi masuk ke dada gue kayak peluru pelan-pelan.
Mutiah...
Cewek yang gue perjuangin, tapi kadang nggak ngerti betapa capeknya gue mencoba tetap kuat.
Dia gampang ngambek, kadang nggak bisa nerima kesibukan gue.
Sedangkan Nikita...
Cewek yang dulu gue anggap gila, tapi ternyata dia gila karena cinta.
Cintanya nggak pernah gue ragukan. Saking kuatnya, justru gue yang takut.
Takut kalah, takut terikat, takut kehilangan kebebasan.
Papa Nikita menepuk pundak gue pelan.
“Pilihlah, Ade. Apakah kamu ingin dicintai dengan tulus, atau mencintai seseorang yang tak pernah menghargaimu dan usaha mu?”
Angin sore berhembus lembut dari balkon rumah sakit.
Wangi cerutu dan aroma bunga dari taman bercampur jadi satu.
Suasana jadi hening.
Hening yang membuat semua keputusan terasa lebih berat dari sebelumnya.
Gue tunduk.
Air mata gue jatuh tanpa bisa ditahan.
Dan di detik itu juga, gue sadar,
kali ini gue harus benar-benar memilih.
Mungkin gue akan kehilangan salah satu...
tapi untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue akan memilih bukan dengan perasaan, tapi dengan kesadaran.
Akhirnya...
keputusan itu mulai terbentuk di hati gue.
Pelan, tapi pasti.
To be continued....
Posting Komentar