. G-F58WFYGPSM Komodo jatuh cinta 104

Komodo jatuh cinta 104

Table of Contents


Mobil hitam Papa Nikita melaju pelan meninggalkan area RS.

Gue duduk di samping Nikita, masih agak kikuk, kayak anak SMA yang baru jadian tapi pura-pura dewasa.

Nikita mainin jari gue.

“Kamu gugup ya, pangeran`?” tanyanya pelan.

Gue tarik napas.

“Bukan gugup… lebih ke takut. Biasanya kalo orang kaya ngajak makan malam, habis itu ada kontrak, sidik jari, atau lamaran dadakan.”

Nikita ketawa kecil.

Di depan, sopir fokus nyetir.

Rangga duduk di kursi depan sambil mantengin spion, ekspresinya kayak bodyguard yang siap menghadapi kudeta negara.

Iwang? Duduk paling belakang, headset di telinga, tapi jelas kupingnya aktif.

“Tenang, bro,” bisiknya, “paling Papa Nikita cuma mau nanya: kamu mau jadi menantu atau mau jadi legenda.”

Gue diem.

.

.

.

Rumah Nikita – Malam Hari.


Rumah Nikita bukan rumah.

Ini lebih mirip hotel bintang lima yang nyasar ke kompleks perumahan.

Lampu taman rapi.

Air mancur di tengah halaman.

Dan pintu utama kebuka pelan saat kami masuk.

Papa Nikita sudah duduk di ruang makan.

Meja panjang.

Makanan rapi.

Suasana… terlalu tenang untuk ukuran keluarga yang biasanya ribut.

Papa Nikita angkat kepala.

“Duduklah.”

Nada suaranya kalem, tapi bikin mental gue langsung mode siaga.

Kami duduk.

Nikita di samping gue.

Rangga berdiri di belakang Papa Nikita.

Iwang pura-pura sibuk sama HP, tapi jelas siap jadi komentator.

Beberapa detik cuma suara sendok dan piring.

Lalu Papa Nikita buka suara.

“Sersan Ade.”

Gue langsung tegak.

“Kamu sudah memilih.”

Gue ngangguk pelan.

Papa Nikita taruh sendoknya.

“Sekarang saya ingin tahu satu hal.

Kamu memilih Nikita karena cinta… atau karena kasihan?”

Pertanyaan itu kayak peluru.

Gue reflek nengok ke Nikita.

Dia diem. Tatapannya tenang, tapi jelas nunggu jawaban.

Gue tarik napas panjang.

“Saya memilih Nikita bukan karena kasihan, Pa.

Saya memilih dia karena…hanya nikita yg berjuang untuk hati saya.. bahkan ketika kami belum seharus nya mengenal cinta.. nikta memberikan mahkota nya kepada saya, mempertaruhkan nyawa nya untuk saya.. dan kalau saya kehilangan dia, saya tau saya bakal nyesel seumur hidup.”

Ruangan langsung sunyi.

Iwang berhenti scroll.

Rangga ngelirik gue.

Nikita nunduk, tapi gue tau dia senyum.

Papa Nikita diem lama.

Lalu dia senyum tipis.

“Jawaban yang buruk untuk bisnis…

tapi cukup jujur untuk seorang laki-laki.”

Dia berdiri pelan.

Jalan mendekat ke gue.

Tangannya berhenti di bahu gue.

“Mulai malam ini, kamu bukan cuma sersan yang nyasar ke hidup anak saya.

Kamu adalah orang yang bertanggung jawab atas air mata dan senyum Nikita.”

Gue telan ludah.

“Kalau suatu hari kamu bikin dia nangis tanpa alasan yang jelas…

saya gak akan marah.”

Gue agak lega.

Tapi Papa Nikita lanjut:

“Saya cuma akan bikin kamu sadar, bahwa menyesal itu lebih mahal dari mati.”

Iwang bisik pelan:

“Bro… ini bukan mertua, ini final boss.”

Nikita Bicara

Nikita tiba-tiba berdiri.

Dia nengok ke Papa Nikita.

“Papa.”

Papa Nikita noleh.

“Aku gak butuh pangeran yang sempurna.

Aku cuma butuh Ade yang gak pergi lagi.aku mau ade berhenti dari militer”

Gue langsung terdiam.

Nikita nengok ke gue.

Matanya lembut, tapi tegas.

“Kalau suatu hari kamu ragu lagi, bilang aja.

Aku lebih suka kamu jujur daripada bertahan tapi setengah hati.”

Gue berdiri pelan.

“Nikita… gue mungkin bukan laki-laki terbaik.

Tapi kalo soal ninggalin lo lagi, gue gak mau jadi pengecut kedua kalinya.”

Nikita senyum.

Dan untuk pertama kalinya, Papa Nikita ketawa kecil. dan tersenyum haru.

.

.

Makan malam berlanjut lebih santai.

Iwang mulai bacot lagi.

Rangga akhirnya duduk.

Papa Nikita mulai cerita masa muda yang absurd.

Dan gue duduk di samping Nikita.

Tangannya masih di tangan gue.

Di saat itu gue sadar satu hal:

Kadang, cinta bukan tentang siapa yang paling kita kejar.

Tapi siapa yang tetap berdiri saat kita berhenti berlari.

Posting Komentar